Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 30 December 2013

CERPEN: KESELONG

KESELONG

Sudah hampir dua hari ini Dini tidak kembali. Kedua orang tua bahkan para tetangganya telah mencari ke sana sini, namun hasilnya nihil. Dini belum juga ditemukan. Tidak ada kabar pasti ke mana ia pergi. Yang jelas dia menghilang secara tiba-tiba. Menurut keterangan pemuda bernama Parjo yang biasa duduk-duduk di lincak bambu milik mbah Surip, sore itu Dini melintas di hadapannya. Tetapi Parjo hanya bersiul ringan tanpa begitu mempedulikan Dini yang nampaknya berjalan dengan amat terburu-buru.
Nyong sih gak begitu paham dia mau kemana.” Jelas Parjo saat dimintai keterangan lebih lanjut oleh warga.
Kenapa gak dibuntuti bae? Kan jadi begini akibatnya.” tanya Pak RT seperti menginterogasi.
“Lha Sampeyan kok nyalahin nyong, nyong kan nggak curiga waktu itu.” Parjo yang merasa disalahkan mencoba membela diri.
Uwis uwis, jangan padu, nggak baik.” Mbah surip menengahi. Pak RT buru-buru sadar dan meminta maaf pada Parjo yang agak kesal.
Nggih, Pak RT nggak papa.” Sahut Parjo kalem.
“Jangan-jangan Dini keselong.” Tiba-tiba istri Mbah Surip menyeletuk. Sontak semua orang yang ada di sana termasuk kedua orang tua Dini terperanjat. Diam-diam mereka membenarkan perkataan istri Mbah Surip. Apalagi beberapa waktu lalu anak Wak Udin yang masih sekolah SD diselong oleh jin penghuni pohon bambu di belakang rumahnya. Seminggu yang lalu, istri muda Om Jiman juga diselong oleh jin penghuni pohon bambu yang sama. Mereka baru kembali setelah semua warga di Desa tersebut berkumpul untuk mencarinya dengan menabuh kentongan dan alat-alat dapur. Pada waktu itu, ibu Dini menabuh panci dengan centong yang masih dipenuhi nasi hangat karena baru memasak untuk makan sore. Dan anehnya, kedua korban yang keselong itu tidak menyadari bahwa mereka telah hilang berhari-hari. Mereka merasa belum ada setengah jam ada di kerajaan jin. Bahkan kata istri Om Jiman, ia baru saja disuruh duduk dan disuguhi minuman namun belum sempat disentuhnya karena mendengar suara-suara yang memanggilnya.
Nek ancen kaya gue, sekarang kita kudu mengumpulkan seluruh warga untuk mencari Dini.” Pak RT mengambil keputusan. Sementara orang-orang mulai ramai dan bergegas pulang mengambil perlengkapan. Tinggal orang tua Dini yang masih tetap tinggal bersama Pak RT di depan rumah tua mbah Surip.
“Aduh Pak, priben nasib anak semata wayange nyong, apa bener diselong ya?” ibu Dini sangat khawatir.
“Lah ibune, meneng dhisik ya! Dini akan segera ditemukan. Wis, rewangi donga bae!” sahut bapak Dini yang sudah bosan mendengarkan rengekan dan tangisan istrinya sejak kemarin. Ia sendiri merasa pusing namun tetap mencoba tabah.
Bapake, nyong khawatir sekali.” Ibu Dini sedikit terisak.
Warga mulai berdatangan kembali ke kediaman mbah Surip. Di tangan mereka telah terdapat kentongan dan alat-alat dapur seperti panci dan kenceng. Ibu Dini menjadi deg-degan.
“Ayo sekalian warga, mari mulai mencari.” Teriak Pak RT di depan kerumunan, tepatnya di emperan milik mbah Surip.
Warga segera manut dengan perintah Pak RT. Mereka mulai berjalan menuju pekarangan mbah Surip yang diyakini angker dan sering menyelong warga.
“Dini, Dini, ayo ndang bali.”
Tong...tong...tong....
“Dini, bali Din...”
Teng...teng...teng...
Warga bersahut-sahutan memanggil Dini. Mereka mulai mendekati rimbunan pohon bambu yang semakin nampak menyeramkan sore itu. Matahari hampir tenggelam.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari cepat mendekati kerumunan warga.
“Pak.... Bu....” teriaknya sambil terengah-engah.
Orang-orang segera mengalihkan perhatiannya pada anak kecil tersebut. Ternyata ia anak Pak Kepala Desa, si Maman.
“Mbak Dini diculik....” teriaknya lagi membuat warga terkejut.
“Lho, bukannya diselong?” Pak RT menimpali. Warga saling berpandang-pandangan, heran bercampur kaget.
“Tadi, di TV ngeton. Mbak Dini kemarin janjian sama batir barunya lewat sms. Mbak Dini kan uwis punya hape.” Terang Maman.
Kedua orang tua Dini baru menyadari semenjak pulang merantau Dini sering memainkan HPnya. Akan tetapi mereka tidak begitu mempedulikan barang ‘baru’ tersebut karena disibukkan pekerjaan harian sebagai petani. Di desa tersebut, HP masih menjadi barang yang sangat langka. Bisa dipastikan hanya Pak Kepala Desa yang memilikinya. Itu pun masih terbatas penggunaannya karena keterbatasan kemampuan beliau. Di samping masih adanya keterbatasan jaringan.
“Terus, di mana Dini?” tanya bapak Dini berharap.
“Ng... ng... nggak paham Pak. Mbak Dini jare pak polisine tewas. Lha tewas kue apa Pak?" Maman yang masih polos balik bertanya.
“Apa???!!!” teriak Ibu Dini kaget. Kemudian ia semaput.
Warga saling berpandang-pandangan. Mereka masih belum mempercayai berita itu. Apalagi keberadaan televisi masih sama langkanya dengan HP. Hanya pendopo kelurahan yang sudah memasang TV. Itu pun masih menggunakan energi aki.
Tiba-tiba saja bapak Dini sudah tidak ada di tempat.
“Pak Lurah, mana Pak Sarno?” warga menanyakan keberadaan bapak Dini karena istrinya semaput.
“Pak Sarno keselong” sahut Mbah Surip tiba-tiba.
Warga yang kebingungan segera membunyikan kembali alat-alat yang mereka bawa.
Tong.... tong... tong.....
Ting... ting... ting....
Pekarangan milik mbah Surip mendadak ramai oleh aneka macam tabuhan, mengalahkan suara adzan dari langgar Mbah Hasyim yang terdengar parau dan serak.
****
Kotagede, 29 Desember 2013

Mawaddah Mumtazza

CERPEN: Gara-Gara HP Kamera

GARA-GARA HP KAMERA

Ayahku menemukan HP di pinggir jalan sewaktu pulang dari kelurahan. Barangnya masih bagus, bahkan fiturnya lengkap. HP ini pernah aku lihat di televisi dan dipakai oleh Raffi Ahmad dalam salah satu sinetronnya. Kelihatannya mahal dan pemiliknya tentu saja orang kaya. Atau, bisa jadi Rafi Ahmad lah pemiliknya. Barangkali tadi terjatuh dalam perjalanan menuju tempat shooting. Ah, tiba-tiba aku sok tahu. Tapi kalau iya.... Wah, Aku tersenyum geli, membayangkan Raffi Ahmad kebingungan karena HP nya menghilang. Lalu muncul di acara Kiss Sore dibarengi sayembara.
“Barang siapa menemukan HP saya, maka akan saya jadikan pacar kedua” begitu kira-kira Raffi Ahmad mengumumkan di banyak media, bahkan bisa jadi muncul di Koran Kompas atau Suara Merdeka. Tapi, kenapa harus pacar kedua ya? Aku cemberut. Makin cemberut ketika angan-anganku ternyata terlalu jauh. Lho, kenapa tidak aku buka saja HP ini. Bodoh, makiku kesal. Akhirmya kuputuskan untuk membuka HP misterius yang ada di genggamanku, dan ternyata basah oleh keringat. Menu pertama yang ingin aku lihat adalah gallery. Aku ingin tahu foto pemilik HP ini. Mendadak jantungku berdegup kencang. Pertanyaan berkecamuk di dalam benakku. Raffi Ahmad atau bukan ya? Kalau bukan, minimal Olga deh gak papa. Kan sama-sama tenarnya. Sama-sama tajirnya. Ups.....
“Oh.....” aku terpekik. Ya ampun, ternyata ini lebih ganteng dari Raffi Ahmad. Sebelumnya, maaf ya Raffi Ahmad, kali ini kamu lewat. Tak henti-hentinya aku memuji ketampanan lelaki pemilik HP yang bak artis Korea.
“Bagaimana aku bisa menghubungimu ya?” tanyaku di hadapan foto tampan itu.
Ayahku tiba-tiba sudah berada di sampingku, tersenyum lebar. Aduh, sial. Ternyata dari tadi beliau mengawasi gerak-gerikku yang nampak aneh.
“Cari saja nomor yang ada di inboxnya. Nanti kamu sms. Terus, ajak saja ketemuan. Di mana kek, pantai atau kafe. Lumayan kan, siapa tahu jodoh. Kamu belum punya pacar, to? Udah dua puluh empat lho ya. Saatnya nikah.” terang ayahku panjang lebar. Bagus juga idenya. Aku hanya nyengir kuda.
“Mana foto-fotonya. Tadi ayah belum sempet liat.” Ayahku merebut HP itu dari tanganku. Dengan cekatan, tangan beliau menggeser satu persatu foto yang ada di dalam folder. Wah, ayahku gaul juga. Aku saja masih seret memakai HP layar sentuh model begitu.
“Gantengnya. Ck.ck.ck. Pokoknya besok pagi kamu harus ketemuan. Apa perlu ayah temani?” tanya ayahku bersemangat.
Aku tersenyum membayangkan pertemuan besok pagi. Laki-laki itu pasti tampan, kaya, dan tentu saja akan menjadikanku sebagai pacarnya seperti dalam sinetron-sinetron. Kok bisa ya aku seberuntung ini.
***
Pergantian hari terasa sedikit lebih lama dari biasanya. Apakah Tuhan sengaja memperlambat waktu untuk menguji kesabaranku? Bisa jadi. Beruntung, penantianku tidak sia-sia. Tadi malam aku berhasil meng-sms salah satu teman yang ada di kontaknya, bahkan bicara langsung dengan pemilik HP yang ternyata sedang bersama temannya itu. Dari suaranya saja, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa dia tampan, rupawan, dan tentu saja anak orang kaya. Aku semakin tidak sabar.
Pagi ini aku siap menunggunya di sebuah kafe terkenal sambil sesekali merogoh saku baju untuk mengambil cermin. Sekelilingku masih sepi. Barangkali aku adalah pengunjung pertama kafe yang baru buka ini. Alunan musik belum juga terdengar membuatku seolah mati kutu berdiam sendirian. Hanya pegawai kafe yang dari tadi melirikku dengan tatapan menggoda. Biarlah, aku rela menunggu asalkan bisa bertemu calon pacar impianku.
Setelah hampir satu jam, akhirnya dia datang. Ya ampun, penonton kecewa. Ternyata dia tak setampan yang aku kira. Penampilannya saja menyeramkan karena beberapa bagian tubuhnya dipenuhi oleh tato berwarna biru. Ada sederet jenis binatang bahkan buah-buahan seperti nenas dan jeruk bali terlukis di sekitar lengannya. Sejak pertama melihatku tadi, ia sudah senyam-senyum senang. Barisan giginya ia perlihatkan bagaikan artis iklan odol yang kerap muncul di tivi-tivi. Perasaanku berkecamuk antara nyata dan tidak nyata. Jus Melon yang tadi sudah kupesan terpaksa kuhabiskan karena harganya mahal. Padahal aku sudah tidak tahan berada di kafe ini. Dia pun membuka percakapan dengan memperkenalkan dirinya.
“Andre, tapi biasa dipanggil Sule” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Eh. Eh. Aku Nana” kusambut uluran tangan itu dengan sungkan. Aduh, ternyata dia malah menahan tanganku. Buru-buru kutarik tetapi genggamanya terlalu kuat. Please. Aku mulai ingin menangis.
“Makasih ya, Na. HP ini hadiah dari bosku karena kerjaanku bagus.”
Aku melongo. “Kamu kerja apaan?” tanyaku akhirnya.
“Serabutan sih. Tapi sering-seringnya kerja bangunan.”
“Terus foto-foto yang ada di HP mu, siapa?”
“Itu anak bos ku. HP ini dulu miliknya, sekarang udah bosan makanya dikasih aku.”
Duarr.... aku seolah tersambar kilat di pagi yang teramat cerah ini. Tak kusangka, tak kuduga. Khayalanku sejak kemarin sore masih saja menjadi khayalan. Aku menyesal dengan kenyataan.
“Sebagai balasannya, kamu mau nggak jadi pacarku?” lanjutnya sambil memelankan suara.
“Na, na, Nana. Nana bangun” panggilnya setelah aku terjatuh dari kursi dan pingsan.
****
Kotagede, 30 Desember 2013

By; Mumtazza

Friday, 13 December 2013

Naskah Drama Media PAI

NASKAH AUDIO
“EMPATI TERHADAP SESAMA”

BABAK I      
MUSIK           : Innocent (up-down-up)
Ann                 : “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang pendengar setia seratus tujuh poin tujuh FM Radio Bimasakti. Jumpa lagi nih dengan Mu’minah yang pastinya akan menemani Anda semua selama kurang lebih tiga puluh menit ke depan. Seperti biasa, Mu’minah hadir di ruang dengar Anda untuk menyajikan program unggulan Bimasakti FM, P tiga S (Penunjang Pembelajaran PAI untuk Siswa) edisi Kamis, Dua puluh satu November Dua ribu tiga belas. Tema kita hari ini adalah Menumbuhkan Rasa Empati terhadap Sesama yang akan ditampilkan dalam sebuah drama singkat. Diharapkan setelah mendengarkan siaran ini Anda dapat memahami makna empati serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan kemana-mana, tetap stay tune di Bimasakti Fm.

MUSIK           :  (down up)
Nar                  : Pagi itu kelas VII.A MTs Nurul Mawaddah sedang menerima pelajaran tentang rasa empati.  Anak-anak nampak begitu antusias mendengarkan penjelasan dari Bu Naila.
Bu Naila          : “Bagaimana Anak-anak, sudah paham semuanya ‘kan terkait isi                             kandungan QS. An-Nisa ayat 8? (memandang seisi kelas)
Ada yang ditanyakan tidak?”
Anak-anak       : (Terdiam)
Bu Naila          : “Kalau tidak ada yang bertanya, kita ulangan saja ya.”
Anak-anak       : (Berteriak) “Jangan, Bu! Jangaaaaan!”
Bu Naila          : (Tersenyum) “Makanya, Ayo tanya.”
Fatimah           : “Saya, Bu!” (tunjuk jari)
Bu Naila          : (Mengangguk) “Silakan Fatimah,”
Fatimah           : “Bagaimana ‘sih cara untuk menumbuhkan rasa empati pada diri                           kita, sehingga kita bisa lebih mudah dalam berempati?”
Bu Naila          : “Pertanyaan yang bagus Fatimah.”
“Nah, Anak-anak, rasa empati itu dimulai dari diri sendiri. Jadi, terlebih dahulu kita harus melatih pribadi kita supaya peka terhadap keadaan di sekitar. Berusahalah menolong orang yang memerlukan, sebelum mereka sendiri yang  meminta bantuan pada kita. Kita harus banyak melatih diri, maka lama kelamaan rasa empati tersebut akan menjadi kebiasaan yang kemudian tumbuh menjadi karakter. Paham semuanya?”
Anak-anak       : “Paham, Buuuu!”
Bu Naila          : “Contoh empati, misalnya ketika kita sedang naik angkutan                                   umum, tiba-tiba melihat seorang nenek tua renta berdiri berdesak-                                   desakan dengan penumpang lainnya. Sementara kita enak-enakan                          duduk di kursi. Karena kita memiliki rasa empati, maka kita pun                              mengalah dan mempersilakan nenek tersebut duduk menempati                               kursi kita. Coba bayangkan kalau kita yang jadi nenek tersebut,                            kasihan kan, sudah tua.”
Anak-anak       : “Iya, Bu!”
Bu Naila          : “Contoh lagi, misalnya teman kita ada yang bersedih karena nilai                           ulangannya merah. Maka, kita berusaha menghibur dan                                       menyemangatinya. Jangan malah bercanda di sampingnya.                                                Barangkali itu membuat dia semakin sedih, karena kita masih bisa                                    tertawa dan senang sementara dia tidak bisa.”

Nar                  : Akhirnya pelajaran pada hari itu pun berakhir satu persatu. Anak-anak segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Beberapa anak masih terngiang-ngiang dengan pelajaran pada hari itu, termasuk Fatimah. Ia memahami betul apa yang telah dia jelaskan oleh gurunya. Ia berjanji akan mengamalkan ilmu yang baru diperolehnya itu. Sementara beberapa anak yang lain telah melupakannya.
BABAK II
MUSIK           : Terimakasih guru (up-down)
Pagi kembali menjemput. Anak-anak kembali menjalankan  aktivitas wajibnya yaitu sekolah. Mereka berangkat dengan penuh semangat. Begitu pun dengan siswa kelas VII.A. Meskipun belum jam tujuh tepat, hampir semuanya sudah berkumpul di kelas. Ada yang menyapu lantai, menghapus papan tulis, menata kursi, bercakap-cakap, dan membaca buku cerita.

Fatimah           : “Rik, sudah jam tujuh kurang seperempat ‘kok Alya belum juga                             berangkat ya, biasanya kan dia paling awal sampai di kelas.”
Rika                 : “Iya yah, tapi kemarin Alya sempat bercerita kalau ibunya sedang                         sakit parah. Katanya kena komplikasi. Penyakit apa ya itu?”                                (mengerutkan dahi)
Fatimah           : “Komplikasi itu penyakitnya bermacam-macam Rik. Bisa jadi                                stroke, ginjal, liver, ah pokoknya lebih dari satu.”
Rika                 : “Ih, kasihan ya Alya, padahal dia sudah tidak punya ayah lagi.                              Malah            sekarang ibunya lagi sakit. Parah pula. Bagaimana kalau                               sampai meningg...”
Fatimah           : (Memotong cepat) “Eh, jangan gitu dong Rik, gak sopan                                        namanya. Lebih baik kita doakan untuk kesembuhan ibu Alya.”
Rika                 : “Eh iya, Maaf deh.”

MUSIK           : Ya Syaikhona (up-down)
Nar                  : Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara bel. Artinya, pelajaran pada pagi itu akan segera dimulai. Setelah petugas TU memandu doa awal pelajaran dari speaker pusat, beliau mengumumkan berita duka, bahwa Ibu dari siswi kelas VII.A yang bernama Alya baru saja meninggal dunia pada pukul enam tadi. Seluruh siswi kelas VII.A mengucapkan kalimat istirja’. Mereka ikut bersedih, apalagi Fatimah dan Rika yang barusan mengobrolkannya. Mata keduanya berkaca-kaca membayangkan Alya tengah sedih kehilangan ibunya.
Pelajaran pertama di kelas VII. A kebetulan diampu oleh wali kelas mereka, Bu Naila. Akhirnya mereka sepakat untuk mengganti pelajaran pertama tersebut dengan persiapan takziyah ke rumah Alya. Mereka mengumpulkan uang dari guru dan teman-teman satu sekolahan untuk membantu Alya.

BABAK III
Nar                  : Pukul delapan lebih, anak-anak kelas VII.A dan beberapa guru MTs Nurul Mawaddah telah sampai di rumah Alya. Fatimah dan beberapa teman yang lain menghampiri Alya yang tengah menangisi ibunya.
MUSIK           : Bismillah (down-up-down)
Fatimah           : (memeluk Alya) “Alya...”
Alya                : “Hiks... hiks.... Fatimah... hiks...”
Fatimah           : (ikut menangis) “Sabar yah, Al. Kami semua ikut bersedih,”
Teman-teman  : (berkaca-kaca) “Iya Al, kami juga merasakan yang kamu                                       rasakan.”
Alya                : “Ibu.... Ibu....hu hu hu hu”
Nar                  : Teman-teman Alya saling berpandangan, mereka merasakan betul betapa pedihnya kehilangan seorang ibu. Terlebih karena ayah Alya pun telah tiada semenjak dua tahun yang lalu. Mereka meneteskan air mata duka.
Alya                : “Hiks... Aku sudah tidak punya siapa-siapa... hu hu hu hu,                                     Ibuuu....... jangan tinggalin Alya sendiriaaaan....!” (menangis dan                                  menjerit)
Fatimah           : “Alya, kamu masih punya Allah, kamu masih punya teman                         teman, kami masih punya banyak saudara. Kamu pasti bisa, Al.”
Teman-teman  : “Kita akan selalu bersamamu Al, kami akan selalu                                                   membantumu.”
Nar                  : Bu Naila pun turut hadir dalam acara takziyah itu. Beliau juga menghampiri Alya dan menghiburnya. Sementara, guru-guru teman-teman yang lain duduk di kursi bersama para pelayat lainnya.
Bu Naila          : (memeluk Alya dan membelai kepalanya) “Alya, sabar ya.... Allah takkan pernah meninggalkan hambaNya. Allah takkan menguji hambaNya dengan cobaan di luar batas kemampuannya. Sayang, kamu pasti bisa. Doakan Ibumu supaya tenang di sana ya ‘nak ya. Kalau kamu terus menangis, ibumu pun jadi sedih...”
Alya                : (Mengangguk-angguk)
Alif kecil
Nar                  : Alya masih menangis, sewajarnya orang yang tengah sedih karena kehilangan orang yang sangat dicintai untuk selama-lamanya.
Fatimah           : “Al, aku siap menemanimu jika kamu butuh teman.”
Teman-teman  : “Kami juga Al.”
Bu Naila          : (Tersenyum) “Nah, kemarin baru saja kita belajar tentang empati                       dan sekarang kalian telah melakukannya. Subhanallah.
MUSIK           : Lagu Sangat Sedih (up-down)
Nar                  : Akhirnya, prosesi pemakaman pun segera dilaksanakan setelah jenazah dishalatkan. Alya nampak sayu. Terlalu banyak air mata yang telah dia keluarkan hari itu. Kini ibunya telah tiada. Namun Alya sadar, ia tak boleh putus asa. Ia tak boleh terlalu larut dalam kesedihannya, karena ia masih memiliki Allah, saudara, guru, dan juga teman-teman yang selalu menyemangatinya.

MUSIK           :  Innocent (up-down)

Ann                 : Seratus tujuh poin tujuh Bimasakti FM, demikian drama singkat tentang rasa empati terhadap sesama telah kita simak bersama. Tak terasa ya sudah hampir tiga puluh menit Mu’minah mengudara, menemani pendengar di mana pun berada. Jangan lewatkan program “P tiga S” edisi minggu depan yang tentunya lebih seru, lebih menarik dan lebih bermakna. Saatnya Mu’minah  undur diri dari hadapan Anda, Tetap stay tune di Radio Bimasakti FM. Jaga hati, jaga iman, jaga akhlak dan Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sampai jumpa.”

*Ummu Mawaddah

Monday, 30 September 2013

CERPEN: VIRUS LORA


Sebenarnya kedatangan seekor kucing yang kemudian ia beri nama Lora itu benar-benar telah membuat hidupnya lebih berwarna. Dulu, ia terbiasa duduk-duduk sendirian di ujung tangga menuju gudang sambil bernyanyi-nyanyi kecil atau hafalan surat-surat pendek yang diwajibkan oleh bu ustadzah tanpa teman seorang pun. Ia tak kenal takut meski kebanyakan teman-temannya telah memberi dia peringatan bahwa tempat itu angker, sering ada hantunya. Tapi karena ia belum pernah melihat sesuatu yang aneh, ia tetap nyaman duduk seorang diri di tempat itu, bahkan tengah malam sekalipun.
Lulu, begitu teman-teman baru di asrama mengenalnya. Ia seorang gadis kecil yang sangat pendiam. Ayah dan Ibu Lulu sengaja mengirimnya ke pesantren supaya ia mau bersosialisasi dan akrab dengan orang lain, tidak seperti ketika di rumah dulu. Namun sudah sebulan di pesantren, ia masih tetap sama dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perubahan pada dirinya. Awalnya lulu tidak betah di pesantren itu karena tempatnya sempit dan kotor. Bayangkan, tiap kamar yang berukuran 4x4 meter itu dihuni sekitar sepuluh anak, bahkan lebih. Belum lagi produksi sampah dari anak-anak usia SD itu kian menumpuk meski setiap hari dipiketi.
“Lora....” Lulu yang baru saja pulang dari sekolah langsung berlari menuju tangga. Kucing betina yang tengah hamil itu kini tinggal di tempat di mana ia terbiasa bercengkerama. Awalnya Lora hanya bermain-main di sekitar pesantren, tapi karena Lulu suka, ia menjadikannya sebagai teman bercerita, dan membawanya ke sana. Kini Lulu mengeluarkan sepotong kue dari kantong bajunya. Lora mengeong ringan, menyambut Lulu dengan sukacita. Diendusnya kue itu dengan hidung mungilnya. Sebentar kemudian, kue itu habis bahkan tanpa meninggalkan sedikitpun sisa.
Begitulah, pemandangan yang hampir setiap hari aku lihat di asrama pelajar ini. Ketika teman-teman seusia Lulu memanfaatkan waktu istirahatnya untuk tidur-tiduran dan bercerita, Lulu kecil malah asyik bermain dengan kucingnya, Lora. Kucing itu terlihat cantik dan gemuk, bulu-bulunya putih bersih berpadu dengan warna coklat kehitam-hitaman. Ekornya yang panjang nampak lucu ketika bergerak-gerak.
Menjadi  ‘bunda’ bagi anak-anak di asrama pelajar memang terkadang sangat memusingkan kepala. Kondisi psikologi yang masih labil seringkali  memicu timbulnya masalah sepele yang kemudian berkembang jadi gede. Anak-anak yang suka bolos lah, suka telat ngaji lah, dan macam-macam saja kelakuan mereka membuat warna pesantren ini makin bervariasi. Setumpuk pe-er berisikan masalah-masalah dari mereka memenuhi daftar bebanku setiap hari. Apalagi, bu Nyai telah memberi seluruh kepercayaannya pada kami.
“Lulu...kalau habis main kucing, cuci tangan dong” tegurku suatu hari. Aku memang takut sama kucing, bukan karena jijik sih, tapi karena menurut buku-buku dan para ahli kesehatan, kucing mengandung parasit yang sangat berbahaya. Dan aku harus memberi tahu anak-anak  supaya mereka bisa jaga kesehatan dengan baik.
“Lu, jangan makan bareng kucing” kehawatiranku semakin menjadi-jadi. Namun Lulu tetap diam tak bergeming. Tangan mungilnya mengelus-elus kucing itu dan sesekali ia gunakan untuk mengambil kue di dalam kantong.  Merasa diacuhkan, akhirnya tempat yang jarang dijamah orang ini kutinggalkan dengan sedikit kesal. Aku bermaksud baik pada Lulu, tapi apa dia kurang percaya terhadap masalah keilmuanku. Aku bukan dokter sih, tapi aku adalah sarjana lulusan biologi dengan predikat cumlaude, sayang saja dia tak mengerti apa-apa.
◦◦◦◦◦◦
Seperti hari-hari biasanya aku berjalan mengelilingi komplek untuk mengontrol kebersihan. Hmm, Sampah tetap menjadi masalah yang paling fenomenal di asrama ini. Bukan karena aku tak peduli sehingga sampah-sampah itu menumpuk menjejali pojok ruangan, tapi anak-anak itu ternyata susah sekali diatur. Terkadang aku merasa harus maklum, namun sering-seringnya aku merasa mereka sudah sangat keterlaluan. Ketika jajan, bungkus-bungkus plastik itu dibuang sembarangan.
“Lingkungan yang sehat adalah cerminan kebersihan para penghuninya” begitu hampir setiap hari aku dan bunda-bunda yang lain mencoba memperingati mereka.
“Iya, Bu” jawab mereka santun. Tapi masalah, karena kesantunan mereka hanya terekam di mulut saja, sehingga rangsang yang diterima tidak diteruskan oleh saraf sensori menuju otak. Kalau demikian, bagaimana saraf psikomotorik dapat bekerja untuk memberi respon? Begitu yang kufikirkan setiap saat. Padahal posisiku sebagai sarjana harus merangkap sekaligus sebagai figur bunda bagi mereka.
“Meong...meong” tiba-tiba ada suara gaduh dari arah tangga gudang. Kubiarkan kedua telingaku menyimak dengan baik sumber suara yang kedengaran samar-samar itu.
‘Meong...meong” kali ini suaranya terdengar lebih jelas, bahkan seperti lebih dari satu suara karena ada suara-suara kecil ikut meramaikan suasana.
Jangan-jangan......
“Lora.....!!!” teriakku sambil berlari menuju tangga.
Dan.... Benar saja seperti yang tadi sempat kuduga, Lora telah melahirkan empat kucing kecil di sana.
“Ya allah” aku hanya bisa mendesis lirih. Tak tahu apa yang harus aku lakukan melihat Lora dan anak-anaknya masih terbalut darah.
“Mbak Ani......!!!” teriakku untuk kedua kali. Kali ini rekanku sesama bunda langsung berlari mendekatiku. Dan kami sama-sama tercengang.
 ◦◦◦◦◦◦
Lahirnya empat kucing lucu di asrama ini cukup membuat para santri senang, terutama Lulu. Mereka bergiliran mengunjungi Lora selepas sekolah maupun mengaji. Ada yang membawakan ikan, tulang, susu, gorengan, bahkan ada yang menghadiahinya bola kecil untuk anak-anak Lora bermain nanti. Ah, ada-ada saja. Apa motivasi mereka berbuat semacam itu? Lora hanya kucing, bukan manusia yang baru saja melahirkan bayi.
“Adik-adik, ayo ngaji lagi” ajakku ketika mereka lupa waktu karena asyik dengan kucing-kucing lucu nan menggemaskan itu.
Sebenarnya aku khawatir mereka terkena penyakit akibat kontak langsung dengan bulu kucing, tapi mereka malah punya alasan jitu mengapa harus akrab bersama para kucing. Hmmm rupanya pengaruh Lulu cukup besar terhadap teman-temannya. Tapi Lulu sekarang dengan Lulu yang kemarin masih tetap sama, sama-sama pendiamnya. Barangkali memang takarannya seperti itu. Ohya, mereka cukup terkesan dengan kisah rasulullah yang rela memotong sajadahnya gara-gara ditiduri oleh kucing ketika beliau hendak shalat, atau hadis yang menceritakan bahwasanya orang-orang yang berlaku dzalim terhadap kucing akan masuk ke dalam neraka. Jelas-jelas aku mati kutu mendengar argumen polos dari mereka. Apakah aku akan menjelaskan jawaban-jawabanku dengan gaya presentasi a la mahasiswa? Tak mungkin, mereka hanya anak-anak.
Lagi-lagi pe-er bagi kami, para bunda.
Dan  kucing-kucing itu ternyata tidak sampai berhenti di situ saja ulahnya. Gara-gara menyusui empat anak, induk kucing Lora harus berjalan menyusuri komplek mencari sisa-sisa makanan di tong sampah, atau di tumpukan sampah yang menggunung di pojok ruangan berlantai keramik merah. Sasarannya tentu tulang-tulang dan gorengan. Akibatnya, sampah-sampah itu semakin tak karuan dan berceceran. Aku terlampau pusing dibuatnya. Padahal piket tetap berjalan. Setiap hari sampah dibuang ke pembuangan oleh tiap-tiap kamar secara bergiliran.
Apakah Lora dan anak-anakmya harus diungsikan? Kami para bunda mencoba membuat alternatif dalam sebuah rapat.
“Tapi anak-anak kucing itu masih terlalu kecil. Ikan saja belum doyan” jawab mbak Lisa yang ternyata memang pemerhati kucing.
“kita lihat dulu besok” mbak ani menimpali.
Keesokan harinya asrama dibuat gempar oleh tahi kucing di sekitar mushalla.
“Bunda, mukena saya kena tahi kucing, hiks” Maria menangis sesenggukan. Diperlihatkannya mukena kecil yang kotor akibat tahi kucing kecil nan bau itu.
“Di sini juga ada, Bu” Aisyah menunjuk sajadah di shaf bagian depan mushalla.
Bau tahi kucing terasa menyebar ke seluruh ruangan, tak terkecuali kamar mandi yang tak jauh d sampingnya. Kami para bunda hanya beristighfar, sekaligus jijik dengan pemandangan yang ada.
“Tenang saja” jawabku akhirnya, sedikit menenangkan rengekan anak-anak.
“Besok ibu kirim ke laundry” tambahku. Mereka pun terdiam. Masing-masing meninggalkan mushalla menuju sekolah.
Ah ada-ada saja. Dasar kucing. Kejadian ini menambah tinggi saja tumpukkan pe-er di otakku. Berat, serasa mau merobohkan dinding asrama yang kian reot dimakan usia.
Kami para bunda sepakat mengepel lantai mushalla dan  mencuci karpet beserta beberapa mukena yang terkena kotoran kucing, dengan harapan Lora sekeluarga tidak melakukan kesalahannya buang hajat sembarangan. Semua ini gara-gara Lulu.
Hari-hari berikutnya, seluruh pojok ruangan asrama dihantui bau yang sangat menyengat. Anak-anak nampak menutup hidung tiap kali berada di dalam asrama, tak terkecuali para bunda. Ketika di mushalla, di tempat mengaji, bau itu terus membuntuti. Seperti malam ini, saat adzan isya dari masjid sebelah  telah berkumandang.
“Apa lagi ini?” Mbak Lisa mencoba menanyai sekelompok anak yang berkerumun di dekat tangga menuju mushalla. Aku menyusul dibelakangnya. Sudah kuduga.
“Tahi kucing lagi” mereka serempak menjawab. Lulu yang duduk di dekat kucing-kucing kecil itu hanya diam seolah tak peduli dengan semua yang terjadi. Tangannya telaten mengelus-elus binatang yang semakin keenakan itu. Matanya terpejam seolah tak ingin terbuka lagi. Kadang-kadang mereka menggaruk-garuk kepalanya yang gatal dengan kakinya. Bulu-bulu halus pun kemudian beterbangan. Lalu si induk kucing Lora menjilat-jilat mereka dengan penuh kasih sayang. Potret keluarga bahagia memang, tapi aku kesal. Sudah berapa kali aku dan para bunda mengepel lantai-lantai yang dikotori oleh tahi-tahi kucing itu? Berapa kali kuperingati Lulu untuk segera menjauh dari kucing-kucing itu? Tapi..tapi semua seolah menjadi angin lalu. Dan kini batas kesabaranku tlah memuncak.
“Buang kucing itu!!!” teriakku seolah kesetanan. Anak-anak nampak terkejut melihat ekspresi marahku yang lain dari biasanya.
“Buang!!” ulangku sekali lagi. Tanpa pikir panjang, ku ambil satu persatu anak kucing yang masih kecil-kecil itu ke dalam kardus bekas. Mbak Lisa pun ikut membantu meski setengah takut.
“Ini sumber penyakit” bentakku pada Lulu yang mulai terlihat berkaca-kaca. Tangannya mencoba merebut kardus yang kuangkat tinggi-tinggi, namun tidak bisa.
Akhirnya buliran penuh warna dari mata lentik Lulu pun berjatuhan tanpa kendali. Disekanya berkali-kali meski air mata tak jua kunjung berhenti. Ada rasa bersalah memang, tapi aku mencoba untuk tidak peduli.
“Jangan....Jangan.....” Lulu berteriak histeris akhirnya. Anak-anak hanya diam dalam kebingungan. Sementara iqamat isya mulai terdengar. Mereka berlari untuk berjamaah, kecuali Lulu.
◦◦◦◦◦◦
Satu pe-er yang menumpuk di kepala kami telah selesai dikerjakan. Alhamdulillah, para bunda merasa sedikit tenang. Tidak ada bau tahi kucing yang menyengat, atau sampah-sampah yang tercecer akibat disatroni si induk kucing. Mungkin mereka telah bahagia hidup di pasar yang jauhnya sekitar dua kilometer dari arah barat asrama, berdekatan dengan rumah sakit kota.
Namun ternyata, aku salah duga. Membuang keluarga kucing itu ke pasar rupanya menimbulkan masalah. Beberapa hari terakhir Lulu tidak nampak di lingkungan asrama. Tidak berada di dalam kamar, tidak juga berada di anak tangga menuju gudang. Ia terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit kota. Ia mengalami sakit yang cukup serius di tubuhnya. Barangkali anak-anak menganggap bahwa aku adalah penyebab utama dari semua, karena aku yang membuang Lora jauh-jauh. Tapi apa mereka tahu, kalau penyakit lulu sebenarnya disebabkan oleh kucing-kucing yang selama ini dia sayangi itu? Lulu terkena Taxoplasma.  Jadi, parasit berbahaya itu menyebar melalui bulu-bulu kucing yang mungkin terkena kotorannya sendiri. Aku tahu pasti, Lulu memang tak pernah mau cuci tangan setelah mengelus-elus Lora. Bukan aku tak mau meperhatikannya jika tahu.
“Bunda keterlaluan sama Lulu” bisik anak-anak selepas berjamaah di mushalla.
“Iya, tahu-tahu Lulu suka kucing, eh malah dibuang.” Teman-teman lainnya menimpali. Semakin memojokkanku memang, tapi mau bagaimana lagi, mereka tak tahu banyak apa yang telah aku ketahui tentang biologi.
Sementara di Rumah sakit kota, Lulu yang sejak kemrin lemas hanya bisa terbaring tak berdaya. Sesekali Lulu terbatuk pelan. Nafasnya terdengar berisik, tidak sewajarnya.
“...hrrrr...hrrrr...hrrrr....” suara itu terdengar samar dan begitu familiar.
◦◦◦◦◦◦
“Lora.....Lora.....” bibir mungil Lulu mulai terbuka, memanggil nama Lora.
Ibu Lulu hanya menggeleng pelan. “Jangan sebut nama itu lagi, Nak” jawabnya sambil mengelus rambut panjang Lulu. Beliau tahu benar, beliau telah mengorek keterngan dariku secara langsung perihal sakit yang dialami Lulu.
‘Di mana Lora?”
Ibu Lulu tertegun.
Baru saja beliau mengusir pergi seekor kucing yang mencoba mendekati Lora di ranjangnya. Kucing yang berwarna putih bersih dengan warna coklat kehitam-hitaman di kepalanya.
Lulu dan Lora memang tak pernah tahu bahwa mereka berdua memang berbeda.
“Lora....” panggilnya lagi
D balik jendela hijau kamar tempat ia berbaring, Lora nampak mengintip dengan hati-hati.
◦◦◦◦◦◦
Yogjakarta, 15 April 2013
Komentar ditunggu

Sunday, 29 September 2013

Cerpen: Realita Pak Dirman


REALITA
Barangkali pagi adalah waktu yang akan selalu disesali oleh pak Dirman. Betapa tidak, kehadiran matahari yang menyilaukan mata lewat jendela sempit di kamarnya itu kemudian memaksanya terbangun dari mimpi-mimpi malam untuk menyaksikan kenyataan yang tak pernah dia harapkan sebelumnya. Lagi-lagi tubuh ringkih yang hampir separuh abad tuanya itu harus mempersiapkan segalanya dengan segera. Disulutnya  kompor minyak yang sudah penuh karat untuk menanak nasi. Lalu Pak Dirman bergegas menimba air untuk mandi. Begitulah, kemudian anak semata wayangnya yang baru duduk di bangku SD kelas tiga itu dimandikan, meski sudah besar. Setelah beres, baru Pak Dirman sarapan pagi bersama istrinya sekaligus mendulang Dodi anak semata wayangnya.
Pak Dirman yang sudah sedemikian tua mengayuh becak yang mungkin sama-sama tuanya menuju pasar, tempat yang katanya penuh rejeki itu. Tak jarang Pak Dirman lupa mandi pagi dengan alasan tak ingin kehabisan rejeki, maklum harus berebut dengan belasan tukang becak yang memiliki tujuan sama mengais rejeki. Itupun masih harus bersaing dengan angkot-angkot berbau amis di sekitar pasar.
“Pak Dirman....” sapa seorang wanita paruh baya dengan sedikit berteriak. Pak Dirman mencoba mencari sumber suara yang cukup membuatnya terkaget saat matahari semakin menampakkan warna silaunya.
“Eh, Mak Ijum” Pak Dirman tersenyum senang. Hatinya teramat bersyukur karena wanita yang biasa menaiki becaknya itu belum pulang dari pasar. Seperti biasa, dua buah keranjang yang dibawanya  selalu penuh dengan sayur mayur dan lauk pauk. Maklum punya warteg.
“Berarti aku tepat waktu” pikirnya. Segera becak tua itu diturunkan supaya memudahkan penumpang saat menaikinya. Buru-buru Mak Ijum mengulurkan tangannya tanda menolak tawaran Pak Dirman. Sontak Pak Dirman terkejut, dahinya yang keriput mengernyit hingga semakin menampakkan lipatan-lipatannya.
“Kenapa, Mak?” suara Pak Dirman hampir tidak kedengaran, saking lirihnya.
“Saya mau naik angkot sajalah, Pak” Mak Ijum nyengir. Tangannya melambai ke arah angkot bobrok yang tak jauh di hadapannya. Segera Mak Ijum menaiki angkot dengan tergesa. Dunia terasa gelap dalam pandangan Pak Dirman. Harapannya musnah. Mak Ijum sudah tidak membutuhkannya lagi, padahal selama ini dialah satu-satunya penumpang setia yang mampu memberikannya sesuap nasi sekadar untuk sarapan sekeluarga, meski hanya berlauk garam. Sial, angkot itu merebut kehidupannya.
Pak Dirman menelan air liurnya yang kering. Disekanya butir-butir keringat yang mengalir deras di lehernya. Kecewa berat, namun tak bisa apa-apa. Pikirannya pun melayang kemana-mana. Pertama, keluarga. Istri yang telah dinikahinya lima belas tahun lalu itu kini tak bisa melayaninya lagi. Ia lumpuh karena stroke. Dulu Minah, istrinya itu bisa membantu penghasilan suaminya dengan berjualan sayur segar mengelilingi komplek perumahan. Lumayan, setidaknya bisa untuk makan dengan tempe goreng atau ikan asin kadang-kadang. Tapi sekarang, bisa makan dengan garam pun Pak Dirman merasa sangat bersyukur. Lebih bersyukur lagi karena Dodi masih bisa sekolah, ada bantuan dari pihak sekolah katanya. Dengan demikian, urusan sekolah tidak jadi masalah lagi baginya. Pak Dirman hanya berharap keluarga yang dicintainya baik-baik saja.
“Jangan Kau coba kami dengan cobaan yang lebih berat, Tuhan” gumam Pak Dirman dalam doa-doanya yang panjang, penuh uraian air mata, luka dan lara.
“Orang miskin sudah tidak berhak sakit, Tuhan. Negara ini kejam” adunya lagi.
Pak Dirman terus memikirkan keadaan keluarganya. Kini bayangan rumah kecil sederhana yang dibeli dengan uang hasil menjual tanah di desa nampak jelas dalam benaknya. Rumah itu sudah reot, perlu sekali dibenahi. Tapi, bagaimana mungkin memikirkan rumah ya kalau mau makan saja masih sebegitu susah? Pak Dirman menyeka keringatnya sekali lagi. Muka tuanya kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
Dipandanginya pasar yang mulai sepi. Hari semakin siang, terik terasa membakar kulit hitam Pak Dirman. Ternyata memang tak ada penumpang, kecuali satu. Seorang nenek tua yang nampak kesusahan membawa barang dagangannya. Nenek tua itu seperti kebingungan, sementara tak ada orang membantunya pulang. Hati kecil Pak Dirman tergugah untuk membantunya.
“Tak apalah jika belum dapat rejeki” bisik hati kecil Pak Dirman, bijak. Becak tuanya ia dorong perlahan mendekati nenek tua yang tengah duduk sambil memandangi jalan.
“Becak Uwa, “ tawar Pak Dirman tersenyum. Senyum yang ia paksa meski dalam hatinya menangis menjeritkan luka-luka yang menganga. Nenek itu hanya memandanginya lekat-lekat.
“Sampean mau nyulik saya yang sudah tua? Beraninya ya. Belum tau kalau suami saya mantan preman pasar!” nenek tua itu membentak. Suaranya terdengar parau. Gigi-giginya sudah banyak yang tanggal. Segera Pak Dirman beristighfar. Tak disangkanya niat tulus dari lubuk hatinya yang terdalam kemudian tak dimengerti oleh orang lain, malah disangkanya ia akan berbuat aniaya terhadap nenek tua itu.
“Saya ingin bantu nenek” Pak Dirman berusaha sabar, meski setengah terkejut.
“Alah, saya sudah nggak  percaya lagi sama orang lain. Semuanya Munafik! Kau tahu, kota ini penuh kemunafikan.” tandas sang nenek berapi-api. Raut wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat.
“Sudah berkali-kali aku ditipu. Biar tua-tua begini aku punya harga diri.” tambah nenek tua yang seolah kesetanan itu.
“Eh Pak, pergi saja kau cari mangsa yang lain”
Pak Dirman hanya termangu. Kata-kata yang terlontar dari mulut nenek tua itu serasa masuk menghujam jantungnya. Terbayang, istrinya terbaring lemah di rumah. Di sebuah dipan reot dekat  jendela sempit yang ada di bagian samping rumah. Hidup sudah tak ada artinya lagi mungkin. Setiap hari hanya memandang keluar, mengamati hiruk pikuk kota. Melihat wanita-wanita seusianya asik bercengkerama di teras-teras rumah sambil sesekali tertawa. Melihat matahari menyapa seolah  memberi semangat untuk bangkit, daripada terus-terusan tidur semakin menambah penyakit. Tapi mau bagaimana jika semua seolah mustahil untuk dilakukan? Minah hanya menangis bahkan nyaris tak bisa tersenyum ketika suaminya, Pak Dirman yang begitu sabarnya mencoba menghibur ia dengan sisa-sisa kantuk dan lelah sehabis pulang bekerja. Ia tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Stroke, stroke. Andai saja ia dapat berunjuk rasa kepada tuhan. Sayang, tak semua orang akan setuju dengan idenya. Di mana sih tuhan yang katanya bijak itu? Mana tuhan yang kata para pembesar agama itu Maha Pengasih, Maha Pemberi, Maha Pengabul atas doa hambaNya yang meminta? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menyesakkan rongga dadanya. Doa-doa yang teruntai panjang dari hati kecil Minah dan mungkin tak cukup jika dicatat dalam beribu-ribu lembar kertas dan buku seolah kabur tersapu angin sepi. Not responding. Once again, where’s the God?
Pak Dirman baru ingat, istrinya pandai merajut. Mengapa tak ia belikan saja jarum dan benang. Dulu waktu masih di desa, Minah pernah belajar pada emaknya. Pak dirman merogoh saku celana kolornya, namun kosong. Lehernya serasa tercekik oleh tangan-tangan berkuku panjang.
“Eh, kenapa Kowe  masih di sini?” tiba-tiba suara parau itu kembali mengejutkan Pak Dirman. Rupanya ia telah terdiam begitu lama di hadapan nenek tua yang tadinya ingin ia bantu itu.
‘Iii...ia Uwa” Pak Dirman akhirnya pergi sambil menggenjot pedal becaknya. Batinnya bergejolak. “Negeri macam apa ini?”
Pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan istrinya tiba-tiba muncul memenuhi ruang kepala. Di manakah Tuhan ketika hambaNya kesusahan? Makan susah, Minum susah, tersenyum dan tertawa pun lebih susah. Yaa, sedikit membenarkan lagu yang pernah didendangkan Sherina, beberapa tahun yang lalu saat ia masih menikmati pekerjaannya sebagai tukang becak, namun sedikit berpenghasilan. Barangkali bisa untuk membeli tempe goreng di warung Mak Ijum, sambil menonton tivi 14 inchi.
Pak Dirman mengontel pedalnya dengan lebih cepat, berharap ada peluang mendapatkan rejeki hari ini. Anak istri di rumah tentu belum makan siang. Seperti dirinya yang tengah mendengarkan cacing-cacing di perutnya berteriak minta makan. Perih memang.
Otak di kepalanya ia paksa berpikir dan terus berpikir. Kini pikirannya tiba pada masalah janji. Oh, janji mana memang? Pak Dirman ingat betul, beberapa tahun lalu ketika istrinya masih sehat, ada calon bupati yang mampir ke tempatnya. Katanya mau melihat-lihat rumah di komplek tempat tinggalnya itu, lalu menyeleksi rumah-rumah terpilih untuk diberi bantuan material. Tentu jika calon bupati itu nantinya menang dalam pemilihan. Rupanya Pak Dirman termasuk satu dari sekian warga yang terpilih. Ia akan diberi bantuan, dengan cara memilih calon bupati tersebut. Ya begitulah kiranya akal-akalan dari orang yang gila akan jabatan. Gila memang, karena segala cara akan dilakukan. Tapi untuk orang-orang seperti Pak Dirman tentu saja hal yang seperti itu tak perlu dipermasalahkan. Ia bahkan manut saja, yang penting nyoblos nomor yang dimaksud saat pemilihan.
Kini Pak Dirman baru sadar, bahkan di akhir masa jabatan calon bupati yang ternyata licik itu, rumah reotnya belum sekalipun tersentuh oleh bantuan material seperti yang dijanjikan. Mendatangi kompleknya saja tidak pernah. Ah, busuk memang. Mau protes? Ah, ribet. Harus menghadapi orang-orang berbaju rapih di kabupaten. Sementara, orang yang datang sama sekali tidak wangi. Bagaimana jika nanti mereka menutup mata? Kalau menutup hidung, ia kira wajar-wajar saja.
Keringat di leher Pak Dirman mengalir semakin deras. Namun Pak Dirman tak mau mempedulikannya lagi. Biarlah keringat itu menjadi saksi akan perjuangannya.
****
Pak Dirman mengayuh kembali becaknya menuju pasar. Hidup baginya tak boleh putus asa. Ia tak boleh mempertanyakan keberadaan Tuhan. Yang jelas, Tuhan akan selalu ada dalam hatinya. Jika saja ia mendekati Tuhan sejengkal, Tuhan akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati Tuhan sehasta, Tuhan akan mendekatinya sedepa. Jika ia mendekati Tuhan dengan berjalan, Tuhan akan mendekatinya dengan berlari. Ia ingat betul petuah Haji Somad yang kemarin menaiki becaknya saat ia hampir putus asa. Saat ia ingin menceburkan dirinya dalam sungai di tengah kota. Karena tiba-tiba saja sosok Haji Somad muncul secara tiba-tiba dan menggenggam tangannya. Lalu Haji Somad menaiki becak dan memberikan sejumlah uang yang membuatnya kaget. Barangkali Uang Kaget memang, seperti program televisi yang pernah ia lihat di tivi 14 inchi milik Mak Ijum dulu, sambil menikmati tempe goreng dan  teh tubruk yang hangat.
Uang kaget itu membuat istrinya kaget, hingga saat ini Minah mulai menikmati hidupnya dengan penuh senyuman. Mungkin kedua kakinya tak dapat digerakkan, tapi mulutnya kini dapat melafalkan huruf-huruf dalam deretan abjad dengan lancar dan mampu membentuk kata kemudian menjadi kalimat. Ia menjadi Minah yang bisa mendendangkan shalawat ketika Dodi tertidur dalam pangkuannya. Ia dapat merajut pernak-pernik yang hasilnya cukup untuk memoles wajahnya dengan bedak, supaya terlihat agak cantik. Stroke yang semakin mengurangi usianya itu ternyata sedikit memudarkan kecantikam Minah. Kalau dibilang mukjizat mungkin terlalu berlebihan karena Pak Dirman sekeluarga bukanlah nabi atau calon nabi. Ulama pun bukan, tapi mereka yakin akan kasih sayang Tuhan. Alloh telah memberikannya kemudahan. Pak Dirman sekeluarga sadar, telah lama mereka meninggalkan shalat. Selama ini mereka hanya berdoa dan terus berdoa menanti keajaiban tiba, tanpa mereka sadari ternyata semua itu salah.
“Maafkan Kami, Tuhan” Pak Dirman meneteskan air mata.
Kini Pak dirman telah kembali siap untuk bersaing dengan angkot-angkot bobrok yang berbau amis  di sekitar pasar. Tak apalah ia kehilangan mak Ijum dari daftar penumpangnya. Bukan berarti itu kiamat kan?
Tukang becak nampak semakin sepi dari pasaran. Banyak yang tidak betah karena sepi akan penumpang. Tapi justru itu kesempatan bagi Pak Dirman, karena kini nenek-nenek tua pun lebih suka memilih becak Pak Dirman. Kok bisa? Ya bisa.
Oh iya,
Kalau saja, beberapa waktu lalu ia tak membawa wanita malang  yang ternyata istri Haji Somad itu ke rumah sakit saat kecelakaan. Mungkin bukan uang kaget yang ia dapatkan. Untung saja Haji Somad segera datang saat ia berniat mengakhiri hidupnya. “Alhamdulillah”
****
Ratusan orang nampak berunjuk rasa di depan kantor kabupaten. Ramai.
“Turunkan Joko! Turunkan Joko!”
“Pelaku Korupsi harus mati!”
“Turun! Turun! Turun!”
Jalur utama jalan diblockade oleh massa yang mengamuk karena marah.
Pak Dirman mengelus dada. “Astaghfirullah” bisiknya dalam hati.
Bupati yang dulu dipilihnya itu ternyata korupsi.
****
Kotagede, 22 April 2013
10:50

Soal Ranah Afektif Sikap Sosial: Tanggung Jawab

SOAL RANAH AFEKTIF SIKAP SOSIAL: TANGGUNG JAWAB Disusun untuk memenuhi tugas (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Assesmen Proses d...